Oleh: Gema Prestasi | Januari 30, 2010

Agar anak cepat membaca..

Tips mengajar anak membaca

Sepintas, pernyataan “ anak balita bisa membaca” rasanya seperti mengada-ada. Betapa tidak, jangankan anak usia di bawah 5 tahun (balita), untuk mengajar membaca pada anak yang sudah memasuki usia sekolah (SD) saja bukanlah pekerjaan yang mudah bagi guru, begitu pula bagi orang tua saat mengajar si anak membaca permulaan. Selanjutnya anak yang sudah melewati kelas 4 SD pun masih ada yang belum lancar membaca.

Mengajar anak apalagi masih usia dini atau balita membaca perlu kesungguhan dan kesabaran dari pihak guru maupun orangtua. Walau demikian kondisinya, masih banyak orangtua menyerahkan sepenuhnya pendidikan anaknya kepada guru di sekolah. Kurang banyaknya peran orangtua bukanlah alasan bagi guru untuk tidak mencari upaya menolong anak agar cepat bisa membaca dengan lancar. Tentu menjadi suatu kewajiban bagi seorang guru tetap belajar dan menambah wawasannya dengan berbagai cara.

Orangtua pun sebaiknya ikut belajar bagaimana caranya agar anak cepat bisa membaca dengan baik. Kalau sudah bisa membaca, hendaknya juga bisa menjadikan buku sebagai kebutuhan rutin yang diberikan kepada anak. Harus disadari, pertama-tama yang bertanggung jawab soal pendidikan anak (apalagi balita) adalah orangtua atau keluarga.

Buku-buku yang memuat hasil temuan, teori-teori, atau teknik-teknik pembelajaran sepantasnyalah menjadi “santapan” bagi guru. Kalau tidak, mutu pendidikan kita akan terus merosot sebagai akibat dari kurangnya minat baca para guru. Bagi guru, membaca buku-buku itu tentu bisa dijadikan ajang untuk mengembangkan wawasan, pengetahuan, dan kompetensinya dalam kegiatan belajar-mengajar. Bagi orangtua, tampaknya pengetahuan ini sangat bermanfaat dalam menumbuhkan minat-baca anak pada usia dini. Kalau minat baca anak sudah tumbuh dengan baik tinggal mengarahkan sesuai dengan bakat dan minatnya.

Bukan Mengeja

Sehubungan dengan itu, ada teori yang layak diketahui oleh guru dan orangtua. Glenn Doman mendapatkan teori dari banyaknya ia berkecimpung membantu anak-anak yang mengalami kerusakan otak. Hasil penelitiannya ternyata juga dapat diterapkan untuk membuat anak normal menjadi lebih cerdas. Salah satunya, mengajarkan keterampilan membaca untuk anak balita atau anak di bawah 5 tahun.

Menurut Glenn, ketrampilan membaca sudah bisa diajarkan pada balita, bahkan lebih efektif daripada sudah memasuki usia sekolah (6 tahun). Dalam penelitiannya dikemukakan bahwa anak umur 4 tahun lebih efektif daripada umur 5 tahun. Umur 3 tahun lebih mudah daripada 4 tahun. Jelasnya, makin kecil makin mudah untuk diajar — tentu dalam batas anak mulai bisa bicara.

Glenn juga berpendapat, balita bisa menyerap informasi secara luar biasa. Semakin muda umur anak, semakin besar daya serapnya terhadap informasi baru. Belajar bagi anak adalah sesuatu yang mengasyikkan. Karena belajar mengasyikkan, maka ia bisa menguasai lebih cepat.

Menurut Glenn, mengajar balita membaca bukan dengan mengeja seperti cara konvensional di sekolah — dimulai pengenalan nama huruf, kemudian mengenal suku kata, barulah mengenal kata, akhirnya kalimat. Glenn berteori, mengajar balita membaca adalah dengan cara mengenalkan satu kata yang bermakna dan kata itu sudah akrab pada pikiran anak atau sudah sering didengar dalam keseharian.

Misalnya, anak sudah biasa makan pisang. Tentunya anak balita itu sudah biasa mendengar kata “pisang”. Kemudian kita ingin mengajar anak agar ia bisa membaca kata “pisang”. Menurut Glenn, anak tak perlu lagi menghapal huruf p, i, s, a, ng, atau suku kata pi dan sang yang masing-masing tidak bermakna. Jadi, bayi langsung diajar membaca kata “pisang” pada kartu yang sudah disiapkan.

Untuk mengajar anak balita membaca, diperlukan kartu-kartu kata yang tercetak cukup besar dan ditunjukkan secara cepat kepada anak, sekaligus dengan pisang yang biasa dimakan. Anak akan menangkap apa yang dikatakan orangtuanya dan menghubungkannya dengan tulisan yang ditunjukkan kepadanya. Demikian juga kata yang lain, kata-kata yang sudah akrab dengan si anak beserta benda yang diacu. Semuanya dibuatkan kartu-kartunya.

Teori Glenn ini diterapkan dengan pemikiran bahwa membaca adalah fungsi otak, sedangkan mengajar membaca dengan mengeja huruf (cara konvensional di sekolah) diikat oleh kaidah atau aturan bahasa. Aturan-aturan bahasa ini malah memperlambat keterampilan anak membaca. Dengan teori Glenn, anak diajar melihat tulisan seperti halnya melihat gambar. Rangkaian kata bagi si anak adalah suatu simbol dari benda yang diucapkan si ibu atau si ayah yang membacakannya. Selanjutnya, karena makin hari jumlah kata dan benda yang dikuasai makin banyak, maka tulisan kata dalam kartu makin ditambah pula.

Glenn memberi catatan, mengajar bukan menjadi suatu beban, melainkan hak istimewa bagi orangtua. Anak adalah prioritas yang penting dalam keluarga. Kegiatan belajar membaca perlu diulang-ulang beberapa kali (15 hingga 25 kali), lalu kartu yang lama diganti dengan kartu yang baru. Saat mengajar, anak maupun orangtua harus dalam kondisi mood yang baik dan suasana yang menyenangkan. Durasi membacanya juga harus sangat cepat, hanya sekilas-sekilas saja dan harus segera berhenti sebelum anak ingin berhenti. Jangan mencoba untuk memberi tes karena anak tidak suka dites. Suasana pembelajaran membaca pun mesti penuh dengan keramahan dan kehangatan.

Guru Keliru

// <![CDATA[// Bagaimana dengan pembelajaran bahasa di sekolah? Belajar membaca adalah bagian dari pembelajaran bahasa. Bertitik tolak dari teori Glenn, tampaknya kekeliruan guru bahasa di sekolah menyebabkan anak kurang menguasai dengan baik bahasa yang dipelajari. Dalam pembelajaran bahasa, guru sering menekankan kaidah bahasa daripada perolehan bahasa, belajar menggunakan bahasa. Jika terjadi kesalahan dalam penerapan kaidah, sepertinya anak itu berbuat dosa. Terlebih jika ditambah wajah guru yang kurang toleran, bertambahlah rasa takut anak. Suasana pun jadi menakutkan.

Pada tahap anak sudah mampu membaca dengan lancar (pada kelas 4 ke atas), ternyata dalam pembelajaran bahasa bukannya anak diajak belajar menggunakan bahasa, melainkan belajar pengetahuan bahasa. Dari PR anak SD (padahal kurikulum berbasis kompetensi) dalam pelajaran bahasa tampak dengan jelas anak belajar pengetahuan bahasa, misalnya menyebutkan nama-nama jenis kalimat.

Kalau demikian, kapan anak mampu menggunakan bahasa? Kalau saja guru mau memperluas wawasannya, misalnya membaca teori Glenn atau teori yang lain, tampaknya kondisi pembelajaran bahasa akan lebih menarik dan bermanfaat. Dalam pembelajaran bahasa, sesungguhnya anak belajar berbahasa lisan dan tertulis, bukan tentang bahasa.

Aktivitas membaca merupakan alternatif yang kita anggap paling baik meningkatkan mutu SDM, mungkin lebih baik daripada selembar ijazah yang pemiliknya kurang melakoni aktivitas membaca. Aktivitas membaca bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja secara rutin. Sedangkan lewat pendidikan formal ada batas waktunya, misalnya anak memasuki usia sekolah, kemudian tamat perguruan tinggi sudah selesai.

Menurut para pakar, sejak balita anak sudah bisa dibentuk agar bisa membaca. Setelah anak mampu membaca sendiri, hendaknya terus dibina dengan cara memberikan buku yang bermanfaat baik untuk menguasai Iptek maupun mengapresiasi nilai-nilai kehidupan manusia. Makin dini usia, melakukan aktivitas membaca makin baik. (Bali Post)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: